Sukarelawan Bangun Rumah Tukang Tambal Ban

03 Juni 2013

Sukarelawan Bangun Rumah Tukang Tambal Ban

SUNARNO(30) yang bekerja sebagai tambal ban, yang biasa mangkal di eks Terminal Soka, Sidorejo Lor kini merasa lega. Pasalnya, selama ini, pria difabel ini hidup di gubug bambu pinggir jalan yang sekaligus tempat parktik tambal bannya.

Tanah yang ditempati itu adalah milik pemkot yang sewaktuwaktu bisa terusir dengan alasan penertiban. Selama lebih kurang delapan tahun, ia berjalan dengan penyangga kaki karena salah kakinya diamputasi akibat kecelakaan beberapa tahun lalu. Pria empat anak itu tinggal digubug kumuh sendirian sedangakan istri dan anak-anaknya tingal di tempat terpisah di luar kota.

“Senang, ternyata ada orang yang peduli saya. Saya akan dibuatkan rumah di atas tanah milik. saya sendiri tak jauh dari eks Terminal Soka. Saya memiliki tanah tapi tak bisa bangun rumah,” katanya. Rumah yang akan dibangunkan kepada Sunarni ini rancananya berbentuk panggung dengan ukuran 6×8 m di atas tanah seluas 10×8 meter. Sunarno mengaku tidak menyangka akan dibantu dibuatkan rumah oleh para sukarelawan. Para sukarelawan yang akan membangunakan rumah untuk Sunarno ini di antaranya sukarelawan Salatiga Peduli. Sukarelawan Merapi Proses pembangunan mulai dilakukan Minggu (2/6) yang melibatkan tak kurang 60 orang untuk bergotong royong.

Seperti diutarakan koordinator Salatiga Peduli Santo Handoyo, sukarelawan yang bergong royong ini bukan hanya dari Salatiga tetapi kota lain seperti Omah Hijau Klaten, Pekalongan Peduli, dan Semarang Peduli. “Kami saling berkomikasi antarsukarelawan itu untuk bergotong royong membantu mereka yang membutuhkan. Kebetulan di Salatiga ini ada yang perlu dibantu, sehingga mereka senang hati berdatangan ke Salatiga,” kata Santo. Menurut Santo, rumah yang dibangun ini berbentuk panggung. Dipilihnya bentuk ini karena konsep panggung ramah lingkungan.

Dengan adanya rongga di atas tanah di bawah rumah, memungkinkan terjadi penyerapan air. “Tahap awal pembangunan ini kami tergetkan yaitu pemancangan tiang-tiang penyangga rumah. Pembanguan akan terus bertahap sesuai dana yang terhimpun,’’ katanya. Mengenai dana untuk membangunkan rumah itu, Santo menyebut, dari masyarakat dan sukarelawan sendiri. Seperti yang dilakukan sukarelawan di Salatiga ini misalnya menjual kendi kerajinan dari Gunung Merapi, kemudian hasilnya disumbangakan untuk pembangunan ini. “Kami menerima sumbangan lain untuk menyelesaikan pembangunan rumah ini,” katanya.

Wahyudi dari Sukarelawan Omah Hijau Klaten didampingi Furgon Abud (Pekalongan) menambahkan, para sukarelawan ini awalnya adalah sukarelawan Gunung Merapi. Di antara mereka terus berkominkasi meski tidak lagi menjadi sukarelawan gunung meletus beberapa tahun lalu itu. “Di mana pun jika ada yang perlu dibantu kami siap. Termasuk di Salatiga dan kota lain, kami akan datang meski hanya membantu dengan tenaga,” katanya. (Moch Kundori-72)

Sumber http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2013/06/03/226553/Sukarelawan-Bangun-Rumah-Tukang-Tambal-Ban

musyafiir bungsu

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s